Sabtu, 09 November 2013

Humor Sufi: Sering-seringlah Membuatku Marah














Suatu hari, Nasrudin dan istinya bertengkar hebat. Sangking dahyatnya pertengkaran itu, si istri sampai kabur kerumah tetangganya. Pada waktu itu, kebetulan si tetangga sedang mempunyai hajat perkawinan. Nasrudin yang marah besar, memburu istrinya ke acara tersebut.

Si tetangga dengan sabar mencoba melerai sepasang suami istri tersebut. Mereka hawatir jika mereka akan mengganggu pestanya. Maka, si tetangga memberi Nasrudin dan istrinya makan minum sepuasnya, dan dihiburnya hingga perseteruan itu mereda.

Setelah pertengkaran mereda, Nasrudin dan istrinya pun kembali kerumah. Nasrudin berbisik kepada istrinya, “Ada baiknya juga kau sering-sering membuatku marah, agar hidup ini agak nikmat dijalani.”

Jumat, 08 November 2013

Humor Sufi: Ramalan Kematian
















Nasrudin berada diatas pohon sedang menggergaji dahan. Ada orang berteriak, “Hey, awas jatuh kau nanti! Kau mestinya tidak duduk di ujung dahan itu!”.

“Apa aku ini tolol harus mempercayai ucapanmu? Apakah kau ini sebenarnya tukang ramal?” teriak Nasrudin.

Beberapa saat kemudian, dahan itu patah digergaji, dan tentu saja Nasrudin pun ikut jatuh. Ia langsung bangkit memburu orang lewat tadi, katanya, “ Wah, ramalanmu tepat! Aku jatuh! Nah, sekarang katakan, kapan aku akan mati?”.

Orang itu menjelaskan bahwa ia bukan peramal, namun Nasrudin ngotot bahwa ia tentu peramal. Akhirnya karena kehabisan kesabaran karena tak tahan dengan tingkah Nasrudin, orang itupun berkata “Kau mati sekarang juga!”.

Detik itu juga Nasrudin jatuh dan tak bergerak. Tetangganya berdatangan dan mengurusnya layaknya jenazah orang yang meninggal. Mereka memasukanya ke keranda dan mengantarkanya ke kuburan. Ditengah perjalanan menuju ke kuburan, mereka berdebat tentang jalan terdekat menuju kuburan itu. Pertengkaran memuncak, dan Nasrudin yang berada diatas keranda merasa jengkel. Ia mengeluarkan kepalanya dari keranda dan berkata, “ Ketika dulu aku masih hidup, jalan yang belok ke kiri itulah yang paling dekat!”.

Humor Sufi: Hakim dan Empat Puluh Saksi















Suatu hari, seorang kaya bermaksud untuk mengajukan sebuah perkara ke pengadilan. Karena sangat ingin memenangkan perkara, orang kaya itu mengirim satu baki kue baklava kepada hakim. Kue itu berjumlah empat puluh buah, ditempatkan pada sebuah baki besar. Dibawah masing-masing kue itu, si orang kaya meletakan sekeping uang emas.

Pembantu hakim menerima baki kue itu dari pembantu si orang kaya, lalu membawanya ke ruang atas kepada si hakim. Ketika membawa baki penuh kue itu, pembantu hakim tak kuat menerima godaan kue-kue itu dan terpaksa mencicipinya sebuah. Tentu saja ia menemukan keping uang emas dibawah kue itu dan memasukanya ke sakunya. Namun, si pembantu hakim tak mampu menahan perasaanya dan mengambil lagi hingga menghabiskan empat kue dan dengan demikian ia juga mengantongi empat keping uang emas. 

Hari berikutnya sidang dilangsungkan, dan hakim memanggil saksi dari masing-masing yang kena perkara. Ketika ia memanggil saksi-saksi dari orang kaya itu, tak seorangpun yang muncul. Hakim pun bertanya pada si orang kaya, “ Mana saksi-saksimu?.”

“Tuan hakim, kemarin saya mengirim empat puluh saksi kerumah tuan untuk diperiksa.”

“Ah, ya. Sekarang saya ingat. Tetapi, engkau keliru tentang jumlahnya. Yang dating kerumahku hanya tiga puluh enam.”

Si pembantu hakim yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan itu menyadari pencurianya telah diketahui. Ia pun segera berkata, “Maaf pak hakim, empat saksi yang lain sudah begitu tua dan lemah sehingga tidak bisa lagi menaiki tangga. Saya telah mendengarkan keterangan dari mereka, dan nanti akan segera saya laporkan kepada anda!.”

Rabu, 06 November 2013

Humor Sufi: Karena Aku Pernah Tertipu

Pada suatu hari, seorang tetangga meminjam uang kepa Nasrudin. Ia memang dikenal suka pinjam uang dan tidak pernah mengembalikan uang yang dipinjamnya. Jadi Nasrudin berfikir bahwa tentu uangnya tak akan dikembalikan jika ia meminjamkan uangnya tersebut kepada tetangganya itu. Tapi akhirnya Nasrudin meminjamkanya juga.

Dan diluar dugaan sebelumnya, si tetangga itu malah mengembalikan uang pinjamanya dikemudian hari. 

Beberapa hari kemudian, tetangga itu kembali lagi kerumah Nasrudin untuk meminjam uang yang lebih besar lagi jumlahnya. Katanya “Saudara tahu, saya ini orangnya dapat dipercaya! dulu saya meminjam uang dan dengan segera mengembalikanya bukan?.”

“Namun kali ini saya tidak bisa! “ jawab Nasrudin tegas. “Dulu itu kamu telah menipuku! Aku pikir kau tak akan membayar, eh tapi malah membayarnya. Kau tak akan bisa menipuku lagi kali ini.”

Humor Sufi: Dia yang Menggigit Telinga Saya

Pernah Nasrudin diangkat menjadi seorang hakim di desanya. Suatu hari, ia dihadapkan dengan suatu masalah yang sangat pelik.

Dalam suatu perkara penganiayaan, sang korban menyatakan bahwa si terdakwa telah menggigit telinganya. Namun, si terdakwa membela diri dan ngotot bahwa si korbanlah yang telah menggigit telinganya sendiri.
“Wah, ini perkara pelik, hmmm… dua keterangan saling bertentangan dan saksi pun tidak ada.” Kata Nasrudin. Ia pun berpikir sejenak dan menghentikan  sidang selama setengah jam.

Nasrudin segera meninggalkan ruang sidang dan masuk ke ruang sebelah untuk berfikir. Disana ia mencoba menggigit telinganya sendiri. Setiap kali ia mencobanya , ia kehilangan keseimbangan dan jatuh terguling. Ia mengulanginya hingga kepalanya benjol-benjol.

Sidang dimulai kembali, Nasrudin berkata: “Coba periksa kepala si korban! Jika kepalanya benjol-benjol, berarti ia telah menggigit telinganya sendiri dan maka ia telah berdusta dipersidangan ini. Kalau kepalanya masih mulus, maka si terdakwa benar-benar menggigit telinga si korban.”


Humor Sufi: Jangan Mencolek Terlalu Dalam














Pada suatu hari, ada seorang petani yang harus mengurus soal perjanjian. Ia membutuhkan jasa hakim untuk menandatangani surat perjanjian itu. 

Hakim desa mengatakan, bahwa ia tidak punya waktu untuk menandatangani surat perjanjian itu, tetapi berjanji akan menandatangani di esok harinya. Ketika si petani dating di gedung pengadilan esoknya, hakim mengatakan tak punya waktu, “Besok pagi saja, saya sedang sibuk!” katanya kepada si petani. Hal ini terjadi secara berulang-ulang selama beberapa hari, sehingga akhirnya si petani menyimpulkan bahwa si hakim minta di suap. Hal ini tentu membuat si petani marah. Tetapi ia sangat membutuhkan tanda tangan si hakim itu.

Akhirnya si petani datang di keesokan harinya, tentu setelah menyiapkan hadiah kepada hakim itu. Ia menyiapkan sebuah gentong dan hampir seluruh gentong itu ia is dengan kotoran sapi. Diatas kotoran sapi itu, ia menutupinya dengan olesan mentega lezat yang beberapa sentimeter tebalnya. 

Gentong itu dibawa ke kantor pak hakim, di serahkanya sebagai tanda terima kasih. Langsung saja, pak hakim menjadi tidak sibuk dan mempunyai waktu untuk menandatangani surat perjanjian milik si petani. Setelah si petani telah memegang surat dengan tanda tangan pak hakim, timbul keberanianya untuk bertanya: “Tuan hakim, apakah anda pantas menerima gentong mentega itu sebagai ganti atas tanda tangan anda?”

Sang hakim tersenyum dan menjawab: “Ah, kau ini. Janganlah terlalu mendalam memikirkanya.” Lalu hakim itu mencolek sedikit mentega dalam gentong itu dan mencicipinya. “ Wah, enak sekali metega yang engkau bawa.” Komentarnya.

“Yah, sesuai dengan ucapan tuan, jangan terlalu mendalam mencolek menteganya.” Jawab si petani sambil segera meninggalkan kantor itu.

Kamis, 17 Oktober 2013

Kisah Sahabat Teladan: Abu Ayyub al Anshari, Perjuangan Tulus Saat Senang Maupun Susah















Abu Ayyub alAnshari, Perjuangan Tulus Saat Senang Maupun Susah. Rasulullah saw. Beserta rombonganya telah sampai ke kota Madinah setelah melalui perjalanan jauh berhijrah dari Makkah ke negri kaum Anshar. Jalan Madinah penuh sesak, penduduknya sedang gembira menyambut kedatangan tamu mulia.

Setiap orang berebut memegang tali kekang onta yang sedang dikendarai Rasul meminta agar Rasulullah saw. Berkenan singgah dan tinggal dirumahnya. Namun dengan lembut Rasulllah saw. Bersabda, “berilah jalan kepada onta ini, karena dia adalah onta yang sudah diperintah.”

Kendaran Nabi berjalan terus melewati beberapa pemukiman kaum terkemuka Madinah. Dan berhenti dan bersimpuh di tanah lapang dekat rumah Abu Ayub al Anshari. Kemudian onta itu bangkit dan berjalan beberapa saat dan kembali bersimpuh di tempat semula. Wajah Abu Ayub berseri-seri karena mengetahui rumahnya menjadi tempat pilihan persinggahan Rasul. Segera beliau mengambil barang-barang yang dibawa Rasul dan mengantarnya ke kediamanya.

Abu Ayub al Anshari atau yang nama aslinya Khalid bin Zaid sudah pernah bertemu dengan Rasulullah sebelumnya. Abu Ayub merupakan salah satu perutusan dari Madinah yang pergi ke Makkah untuk berbai’at sumpah setia kepada Rasul atau yang  dikenal dengan “Bai’at Aqabah kedua.”
Abu Ayub memiliki rumah yang bertingkat. Beliau mempersilahkan Rasulullah saw. Untuk tinggal di tingkat atas. Namun Rasul lebih memilih untuk tinggal di lantai pertama. Pada malam harinya Abu Ayub dan istrinya berbincang tentang perasaan canggung mere yang harus tidur di atas Rasulullah saw. Sampai-sampai mereka tidak berani berjalan ditengah ruangan, melainkan hanya dipinggirnya agar tidak melewati Rasulullah saw.

Pagi harinya Abu Ayub menceritakan tentang kondisi mereka semalam kepada Rasulullah dan meminta beliau untuk mau pindah di lantai atas. Rasulullah saw. Menjawab, “tenanglah Abu Ayub, lebih baik kami dilantai bawah dahulu, karena banyak orang yang akan berkunjung.” Abu Ayub pun menerima alasan beliau. 

Pada suatu malam yang dingin, ghirbah tempat air Abu Ayub tertumpah. Abu Ayub dan istrinya khawatir jika airnya akan merembes dan mengenai Rasulullah saw. Karena tidak ada kain lain untuk mengelap, akhirnya Abu Ayub menggunakan selimut satu-satunya milik mereka untuk mengepel lantai. Peristiwa tersebut mereka ceritakan kepada Rasulullah sehingga akhirnya beliau mau untuk pindah ke lantai atas. 

Rasulullah saw. Tinggal di rumah Abu Ayub selama kuranglebih delapan bulan, atau hingga masjid selesai dibangun. Dan ketika Rasulullah saw. Telah berpindah dari rumahnya, Abu Ayub senantiasa menjadi tetangga yang baik bagi keluarga Rasul.

Pada suatu siang yang terik, Rasulullah , Abu Bakar ra., dan Umar bin Khatab ra. Keluar dari rumah masing-masing secara bersamaan. Rupanya, ketiganya memiliki masalah yang sama, yaitu rasa lapar yang sangat. Lantas Rasul mengajak kedua sahabatnya kerumah Abu Ayub ra.
Setelah mengucap salam, rupanya hanya ada Ummu Ayub dirumahnya. Namun suara Rasul terdengar hingga lading tempat Abu Ayub beraktivitas. Beliaupun bergegas menemui tamunya yang mulia itu. Abu Ayub memotong dahan kurma yang matang dan menyembelih kambing untuk menjamu tamunya.

Abu Ayub selalu mengikuti seluruh perang dalam membela agama Allah swt. Baik ketika masa Rasulullah saw. Maupun sepeninggal beliau. Kecuali satu kali saja Abu Ayub absen tidak menyertai balatentara Islam karena khalifah pada saat itu mengangkat salah seorang dari pemuda Muslimin sebagai komandanya. Sedang Abu Ayub tidak puas dengan kepemimpinanya. Namun, Abu Ayub menyesal atas tindakanya itu. Dan selalu menghadapi seluruh medan perang dalam berjihad membela agama Islam tak peduli siapa komandanya.

Ketika terjadi perbedaan faham antara Ali dan Muawiyah, beliau tanpa ragu berdiri dipihak Ali. Dan tatkala Ali syahid karena dibunuh, dan khilafat berpindah kepada Muawiyah, Abu Ayub memilih untuk menyendiri dalam kezuhudan dan beribadah kepada Allah swt.
Hingga pada suatu hari diketahuinya bala tentara islam bergerak ke Konstantinopel untuk membebaskanya dari Romawi, segera Abu Ayub turut serta dalam peperangan yang dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah dengan membawa kuda dan mengangkat pedangnya. 

Dengan usianya yang mendekati delapan puluh tahun, beliau bertekad kuat meski akan melalui perjalanan yang sangat jauh. Belum lama perang berkecamuk beliau terserang penyakit parah. Yazid pun menjenguk sang sahabat mulia tersebut, menanyakan kabarnya dan menanyakan apa keinginanya. Beliaupun berwasiat, “jika saya meninggal, letakan jasadku pada kudaku, dan bawalah aku sejauh pasukan dapat menggempur musuh. Dan kebumikan aku disana.” Tak lama Abu Ayub ra. Menghembuskan nafas terakhirnya.

Peperangan terus berkecamuk. Sesuai dengan wasiat beliau, jasad Abu Ayub diletakan diatas pelana kudanya dan ikut serta barisan muslimin menggempur Romawi. Akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin, mereka berhasil menaklukan benteng Konstantinopel. Selesai berperang, kaum muslimin pun menguburkan jasad sang sahabat mulia yang tetap mengikuti jihad meski nyawanya telah tiada. 

Terdapat fakta menarik dibalik kematian Abu Ayub ra. Banyak ahli sejarah yang mencatat peristiwa penaklukan Konstantinopel menyebutkan: “ orang-orang Romawi sering berkunjung dan berziarah ke keburan Abu Ayub ra. Mereka meminta hujan dengan perantaranya ketika mereka mengalami kekeringan...” bahkan sejak Konstantinopel belum sepenuhnya dikuasai oleh tentara Muslim, orang-orang romawi penduduk Konstantinopel sudah menganggap Abu Ayub ra. Yang berada dimakamnya sebagai orang kudus yang mulia.
Semoga rahmat Allah selalu tercurah bagimu wahai Abu Ayub al Anshari. Aamiin~