Sabtu, 01 Juni 2013

Data dan Fakta Mukjizat Rasulullah Membelah Bulan












Bulan Terbelah Di Zaman Rasullulah . Allah swt. Telah mengutus rasul-rasulnya kemuka bumi untuk menyerukan kebenaran kepada umat manusia. Dari sekian banyak rasul yang telah diutus kemuka bumi oleh Allah swt. Telah kita ketahui beberapa rasul yang telah dikaruniai mukjizat untuk memperkuat kerasulan dan melemahkan musuh yang menentang kerasulanya. Diantaranya yang tentu telah kita ketahui adalah mukjizat nabi musa yang dari tongkatnya bisa berubah menjadi ular dan mampu membelah air laut sehingga menjadi sebuah jalan yang dapat dilalui ketika dikejar-kejar tentara Firaun, atau Nabi Ibrahim yang tidak mempan dibakar api, nabi Yunus yang selamat setelah ditelan ikan paus, dan mukjizat nabi-nabi yang lain. Begitu pula dengan nabi kita Rasullulah Muhammad saw. Beliau telah di karuniai beberapa mukjizat yang menakjubkan dan mukjizat terbesar beliau adalah kitab Al Quran. Diantara berbagai mukjizat yang ada pada diri Rasulullah saw. Ada satu mukjizat yang menjadi topik panas dan diperdebatkan di era modern ini, mukjizat itu adalah peristiwa terbelahnya bulan dizaman awal kerasulan beliau.

Kisah Rasulullah membelah bulan.
Dari Abdullah Berkata bahwa ‏Bulan terbelah menjadi dua bagian di zaman Rasulullah, kemudian Rasulullah Saw bersabda: “Saksikanlah!”  (HR. Muslim: 7249)
Kisah itu terjadi sebelum Rasullulah saw. hijrah dari Makkah ke Madinah. Kaum kafir Quraisy berkata, “Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu!...”
Rasulullah saw. bertanya, “Apa yang kalian inginkan?” Mereka menjawab: “Coba belah bulan!”. Maka, Rasulullah saw. berdiri dan terdiam, lalu berdoa kepada Allah swt. agar menolongnya. Lalu, Allah swt. memberitahu Muhammad saw. agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Maka, Rasulullah saw. mengarahkan telunjuknya ke bulan dan terbelahlah bulan yang sedang mereka lihat. Bulan terbelah menjadi Dua bagian, di mana bagian lainnya berada di sisi  Gunung Safa dan bagian lainya di sisi Gunung Qaikaan dan terlihat di antaranya bukit Hira. Namun karena kesombongan mereka, serta-merta orang-orang kafir Quraisy berkata, “Muhammad, engkau benar-benar telah menyihir kami!” Akan tetapi, para ahli diantara mereka mengatakan bahwa sihir memang benar bisa saja menyihir orang yang ada disekitarnya, akan tetapi sihir tidak bisa menyihir orang yang tidak ada di tempat itu. Maka, dengan akal dan rasa penasaran, mereka menunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan. Lalu, orang-orang Quraisy bergegas menuju keluar batas kota Makkah menanti para musafir yang baru pulang dari perjalanan.

Dan ketika datang rombongan musafir yang pertama kali tiba menuju kota Makkah, orang-orang Quraisy  menanyai mereka, “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?” Mereka menjawab, “Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dan saling menjauh masing-masingnya kemudian bersatu kembal”.

Akhirnya, sebagian mereka pun beriman sedangkan sebagian lainnya lagi tetap kafir mengingkari kebenaran yang telah mereka terima. Lalu, Allah swt. menurunkan wahyu-Nya: Telah dekat datangnya Hari Kiamat dan Bulan telah terbelah . Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus” . Dan mereka mendutakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya”  (QS. Al Qomar :1-3).

Dari kisah diatas dapat disimpulkan bahwa, ketika peristiwa itu terjadi bukan hanya kaum Quraisy atau warga kota Makkah saja yang melihat peristiwa terbelahnya bulan, tetapi juga kaum musafir yang sedang melakukan perjalanan jauh di luar Makkah. Bahkan berdasarkan beberapa sumber sejarah, peristiwa terbelahnya bulan dapat disaksikan oleh orang-orang yang berada jauh dari kota Makkah, diantaranya kisah Raja Cheraman Perumal orang India pertama yang memeluk agama islam. Beliau melihat peristiwa terbelahnya bulan dan mendapatkan kabar dari para pedagang dan pengembara dari Negara asing bahwa peristiwa tersebut adalah sebuah mukjizat Rasulullah Muhammad saw. Yang berada di Jazirah Arab. Sang raja pun berangkat menemui Rasulullah saw. Dan memeluk Islam.

Peristiwa terbelahnya bulan juga tertulis di dalam berbagai manuskrip kuno dari berbagai Kebudayaan di masa itu. Diantaranya manuskrip kuno dari Persia, India, Madrid, bangsa suku Maya kuno, dan tertulis di dalam sebuah kuil di China.

Berdasarkan kesaksian sejarah dari berbagai kebudayaan yang terlah disebutkan diatas, hal tersebut mematahkan teori beberapa orang yang mengatakan bahwa terbelahnya bulan adalah kata kiasan dan tidak harus atau tidak benar-benar terjadi. Hal tersebut tentu telah  mengingkari fakta sejarah yang telah tertulis.

Namun beberapa ilmuan asing berpendapat bahwa, peristiwa terbelahnya bulan merupakan peristiwa yang mustahil terjadi dan sulit untuk dipercaya. Hal ini dikarenakan foto Rima Ariadaeus (sebuah photo yang menunjukan sebuah celah yang menyerupai retakan besar pada Bulan seperti bagian yang telah terpotong kemudian bersambung) sebuah gambar yang diklaim sebagai bukti bulan pernah terbelah dimasa lalu merupakan bukti yang lemah. Hal ini dikarenakan Rima Ariadeus hanya memiliki panjang 300 Km sedangkan diameter ekuator permukaan bulan mencapai 1.738,14 Km. Meninjau secara mekanisme fisis bahwa bulan pernah terbelah juga sangat sulit untuk dijelaskan secara ilmiah.

Meskipun menurut ilmu sains mukjizat Rasulullah saw. Membelah bulan sulit dijelaskan, lantas apakah yang harus kita lakukan sebagai umat muslim? Menganggap itu sebagai kata kiasan yang maknanya berbeda?... Menganggap hal itu hanya dongeng dan tidak benar-benar terjadi?... Atau bahkan menganggapnya sebagai kisah palsu yang mengada-ada?...
Sebagai seorang muslim yang beriman sikap kita yang seharusnya adalah mengimani dan mengambil berbagai pelajaran dari peristiwa tersebut. Karena, banyak hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil darinya. Bukan malah mengingkari dan menganggapnya kisah belaka. Memang membutuhkan kajian khusus untuk menafsirkan kisah yang ada di Al Quran. Untuk itu dibutuhkan hadist nabi dan penjelasan para ulama dalam memahaminya.
Dan yang perlu diketahui, ilmu ilmiah hanya dapat menjelaskan kejadian-kejadian alam. Mukjizat bukanlah kejadian alam, sehingga ilmu tidak bisa menjangkaunya. Seperti halnya kisah ketika Nabi Musa membelah lautan, atau Nabi Isa menghidupkan orang yang sudah meninggal. Tidak diperlukan adanya bukti ilmiah untuk mengimaninya. Cukup Al Quran dan Al Hadist yang menjelaskanya kepada kita. Karena andaikan bila kisah-kisah itu tidak tertulis di Al Quran dan Al Hadist, tentulah muslimin di zaman kita tidak akan mengetahui dan mengimani kisah-kisah tersebut.

Berikut sebuah artikel tentang Mukjizat Rasulullah saw. Artikel ini saya buat sendiri dengan ketikan tangan, dengan referensi beberapa artikel yang saya temukan di internet. Dilarang menjiplak secara utuh artikel ini demi keuntungan komersil. Jika ingin mengutip isi artikel ini, harap memberikan link balik ke  Data dan Fakta Mukjizat Rasulullah Membelah Bulan. Terima kasih atas kunjungan anda.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar